IPB

Badge Image-IPB

Senin, 29 Februari 2016

Laporan Fieldtrip Pelabuhan 2015 - PSP351


LAPORAN PRAKTIKUM LAPANG

Mata kuliah                  : Pelabuhan Perikanan
Tanggal Praktikum       : 12 – 13 November 2015





KELOMPOK 11
Beni Pramayoga                       C44130022
Yogi Abdullah                           C44130035
Tiara Karlinda Rifai                   C44130043
Martinus Bintang Pamungkas     C44130066















BAGIAN KEPELABUHAN PERIKANAN DAN KEBIJAKAN PENGELOLAAN
DEPARTEMEN PEMANFAATAN SUMBERDDAYA PERIKANAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2015
Kata Pengantar
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan pertolongan dan rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan Laporan Kegiatan Fieldtrip Pelabuhan Perikanan yang dilaksanakan.pada tanggal 12 – 13 November 2015. Tujuan dari pembuatan laporan ini adalah untuk mengetahui perbedaan antara Pelabuhan Perikanan Tipe A ( PPS Nizam Zachman), Tipe B (PPN Kejawanan) dan Tipe C (PPP Muara Angke) serta mengetahui aktifitas-aktifitas apa saja yang ada di setiap pelabuhan..
Tak lupa kami ucapkan terimakasih kepada dosen matakuliah Pelabuhan Perikanan, karna berkat mereka kami mendapatkan dasar teori yang kami terapkan dilapangan serta semua pihak yang berperan dalam pembuatan laporan ini
Akhir kata penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan  terhadap laporan ini sehingga penulis berharap kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan laporan ini. Semoga laporan ini bisa berguna semestinya dan dijadikan informasi bagi para pembacanya



Bogor,   November 2015


Tim Penulis










PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia sebagai negara maritim mempunyai wilayah laut seluas lebih dari 3,5 juta km2 , yang merupakan dua kali luas daratan (Triatmodjo : 1999). Perairan yang sangat luas tersebut mempunyai potensi sumber daya perikanan yang besar. Untuk menggali potensi tersebut keberadaan sebuah pelabuhan sebagai tempat berlabuh kapal, pendaratan ikan, untuk memperlancar operasi penangkapan, pemasaran, dan pengelolaan ikan hasil tangkapan.
Indonesia memiliki pelabuhan perikanan yang tersebar di seluruh penjuru tanah air sebagai salah satu elemen penting dan strategis dalam pengembangan sub-sektor perikanan tangkap. Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia No. 45 Tahun 2009 tentang Pelabuhan Perikanan, fungsi pelabuhan perikanan adalah sebagai pusat pelayanan masyarakat dalam kaitannya dengan tambat labuh perikanan, pendaratan ikan, pemasaran  distribusi ikan, pelaksanaan pembinaan mutu, memperlancar kegiatan operasional perikanan, dan pelaksanaan kesyahbandaran. Dalam fungsinya menurut Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan RI No. 10 Tahun 2004, pelabuhan sebagai tempat pelayanan masyarakat. Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap mengelompokan pelabuhan perikanan menjadi 4 (empat) tipe menurut kriteria-kriteria tipe pelabuhan (Lubis, 2000). Pengelompokan pelabuhan terdiri dari, Pelabuhan Perikanan Samudera (A), Pelabuhan Perikanan Nusantara (B), Pelabuhan Perikanan Pantai (C), dan Pangkalan Pendaratan Ikan (D).
Dari keempat tipe pelabuhan ini, setiap pelabuhan pasti memiliki permasalahan. Permasalahan yang timbul secara umum di pelabuhan perikanan biasanya terletak pada kebersihan pelabuhan, sarana dan prasarana dan sumber daya manusia yang belum kompetitif.
Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Muara Angke Jakarta diresmikan pada 7 Juli 1977 oleh Gubernur Ali Sadikin. Terletak di delta Muara Angke, secara administratif termasuk kawasan Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara. Luas lahan Muara Angke saat ini sebesar kurang lebih 64 Ha. Permasalahan yang ada pada Pelabuhan ini terletak pada kebersihan pelabuhan. Masih ada genangan air pada pelabuhan yang menandakan bahwa saluran air pada pelabuhan ini bermasalah
Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman Jakarta  dibangun pada tahun 1980 dan diresmikan pada tanggal 17 Juli 1984. Awalnya nama pelabuhan ini adalah Pelabuhan Perikanan Samudera Jakarta dan sesuai SK MKP No.04/MEN/2004 nama pelabuhan ini menjadi Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman Jakarta. Luas area pelabuhan ini adalah 110 Ha termasuk daratan dan kolam. Tidak ada permasalahan yang terlihat saat kunjungan ke sana karna saat kunjungan, waktu sudah sore hari.
Pelabuhan Perikanan Nusantara Kejawanan terletak di Cirebon, Area PPN Kejawanan ini cukup luas yaitu 74 Ha, cukup untuk mendukung Industrialisasi Perikanan Tangkap. Lokasi PPN Kejawanan cukup strategis dekat dengan Fishing Ground dan dekat daerah pemasaran. Permasalahan pada pelabuhan ini adalah tidak berjalannya kegiatan seperti bongkar muat dan pelelangan ikan.
1.2 Tujuan
            Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui dan mengenal fasilitas – fasilitas dan aktivitas yang ada di pelabuhan dan dapat membandingkan antara teori dan fakta yang ada di lapangan.



METODOLOGI
2.1 Lokasi Praktikum Lapang
            Praktikum lapang Pelabuhan Perikanan dilaksanakan selama dua hari, 12 – 13 November 2015. Pemilihan lokasi praktikum berdasarkan tipe – tipe pelabuhan yaitu
Pelabuhan Tipe A, Tipe B dan Tipe D.
a)      12 November 2015 : PPI Muara Angke (Tipe D) dan PPS Nizam Zachman Jakarta (Tipe A)
b)      13 November 2015 : PPN Kejawanan Cirebon (Tipe B)
2.2 Alat dan Bahan
            Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum lapang adalah papan jalan, kertas A4, kamera dan penuntun praktikum lapang
2.3 Pengambilan Data
            Ada dua tipe data yang di dapat, yaitu Data Primer dan Data Sekunder.
Data Primer :
1.      Pembongkaran ikan
2.      Pendaratan ikan
3.      Pelelangan ikan
4.      Kondisi lingkungan pelabuhan
5.      Kondisi sanitasi lingkungan
Data Sekunder :
1.      Kondisi fasilitas pelabuhan
2.      Tata letak fasilitas di pelabuhan
3.      Kondisi dermaga
Praktikum lapang dilakukan wawancara untuk mendapatkan data yang dibutuhkan. Wawancara dilakukan kepada nelayan yang  sedang beristirahat di kapalnya. Informasi yang di dapat pada wawancara dengan nelayan adalah jenis hasil tangkapan, lama trip, berat hasil tangkapan, ukuran kapal, pembekalan dan wilayah penangkapan ikan.
Dalam diskusi yang dilakukan di setiap Pelabuhan, di dapat informasi mengenai keadaan terkini di setiap Pelabuhan antara lain
1.      Fasilitas
2.      Permasalahan lingkungan yang dihadapi
3.      Solusi atas permasalahan yang di hadapi
4.      Wisata yang ada di PPI Muara Angke
Selain wawancara dan diskusi, pengamat pada pelabuhan juga di lakukan. Tujuan dari pengamatan adalah agar mendapatkan informasi tentang keadaan fasilitas di pelabuhan serta lingkungan sekitar pelabuhan

KONDISI UMUM LOKASI PENGAMATAN
1.   PPI Muara Angke Jakarta



Muara Angke memiliki luas 65 ha yang terletak di kawasan Muara Angke. Secara administratif terletak di Kelurahan Pluit, Kecamatan Penjaringan, Kotamadya Jakarta Utara. Kawasan Muara Angke berbatasan dengan kali Angke di sebelah barat dan Selatan, jalan Pluit di sebelah timur, dan Laut Jawa di Utara. Lahan seluas 64 ha digunakan untuk dermaga + dermaga type T (530 m), pemecah gelombang (1.700 m), kolam pelabuhan (63.993 m2), tempat pelelangan ikan (2.212 m2) dan pasar ikan (9.000 m2)
Sejak tahun 1977 pemerintah Provinsi DKI Jakarta membangun kawasan Muara Angke yang bertujuan sebagai Pangkalan Pendaratan Ikan Daerah dan Pusat Pembinaan Kegiatan Perikanan di Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Kawasan Muara Angke mempunyai kontur permukaaan tanah datar, dengan ketinggian dari permukaan laut antara 0-1 meter. Geomorfologi kawasan pantainya lunak sehingga daya dukung tanah rendah, sedimen dasar laut dominan oleh lumpur (lempung dan lanau). Pasang surut kawasan ini mempunyai sifat harian tunggal dan kisaran antara surut tertinggi dan terendah adalah 1,2 meter dan gerakan periodik ini walaupun kecil tetap berpengaruh pada kondisi pantai kawasan ini. Arus laut pada musim barat berkecepatan 1,5 knot dengan ketinggian gelombang antara 0-1 meter, jika terjadi angin kuat gelombang dapat mencapai 1,5 - 2 meter.
Di kawasan tersebut, pemerintah telah membangun Tempat Pelelangan Ikan, gedung pasar grosir ikan, gedung pengecer ikan, kios, gudang, kantor yang dimanfaatkan oleh para pengusaha perikanan, tempat pengepakan ikan, serta berbagai fasilitas penunjang lainnya. Fasilitas yang dibangun pemerintah pada umumnya dapat dimanfaatkan secara baik oleh para pengusaha dan memberikan manfaat luas terhadap masyarakat perikanan, baik berupa penyediaan lapangan kerja maupun keuntungan lainnya bagi masyarakat.
Selain pembangunan yang dilakukan pemerintah, sektor swasta juga diberikan kesempatan untuk melaksanakan pembangunan kawasan dengan dibantu oleh pemerintah. Hal ini dapat dibuktikan dengan berdirinya fasilitas-fasilitas penting bagi usaha perikanan seperti cold storage, pabrik es, tempat-tempat penyimpanan ikan yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan ikan namun juga berfungsi sebagai stabilisator harga ikan.
Lokasi Pelabuhan Perikanan dan Pangkalan Pendaratan Ikan Muara Angke terletak di daerah yang cukup strategis, aksesibilitas ke tempat ini sangat baik, kondisi jalan beraspal, dengan sarana transportasi yang menuju ke tempat ini adalah bis dan angkutan kota.
Dalam perkembangannya, secara fungsional Pelabuhan Perikanan dan Pangkalan Pendaratan Ikan Muara Angke yang berstatus sebagai Pangkalan Pendaratan Ikan Daerah telah memiliki fasilitas sebagaimana dimiliki oleh pelabuhan perikanan nusantara. Hal ini dapat ditinjau dari jumlah produksi hasil perikanan dan kelautan yang didaratkan dan dipasarkan, maupun fasilitas yang dimiliki (Anonim, 2010).
Sesuai dengan perkembangan kebutuhan, saat ini sedang dilakukan perubahan peruntukan mikro kawasan Muara Angke oleh Dinas Tata Ruang DKI Jakarta. Untuk mengadopsi keperluan zona perumahan/pemukiman nelayan (orientasi vertikal/rumah susun), zona eco marine/ruang terbuka hijau, zona pelabuhan dan zona industri kelautan dan perikanan. 
Hasil tangkapan PPI Muara Angke ini yaitu cumi dan ikan – ikan pelagis kecil. Masalah kebersihan pada pelabuhan ini masih kurang di mana terdapat dua penampungan sampah namun tidak dipergunakan dengan baik hingga tumpukan sampah menumpuk dan berbau tidak sedap di kawasan pelabuhan.

2.   PPS Nizam Zachman Jakarta
Berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. Kep.04/Men/2004 telah ditetapkan perubahan nama Pelabuhan Perikanan Samudera Jakarta (PPSJ) menjadi Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman yang terletak di daerah Muara Baru, Kelurahan Penjaringan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara. Luas lokasi PPS Nizam Zachman adalah 110 Ha.
Pelabuhan Perikanan Nizam Zachman adalah pelabuhan yang terletak di teluk Jakarta. lebih tepatnya pelabuhan perikanan ini terletak pada Provinsi DKI Jakarta, Kota Madya Jakarta Utara, Kecamatan Penjaringan, Kelurahan Penjaringan. Untuk mendukung sistem distribusi perikanan pada pelabuhan ini, pelabuhan ini dilengkapi dengan akses jalan utama yang menghubungkan pelabuhan perikanan tersebut ke beberapa lokasi strategis di wilayahnya.  Jarak tempuh antara Pelabuhan Nizam Zachman dengan lokasi strategis tersebut adalah sebagai berikut, jarak tempuh dengan Kantor Pemerintah Provinsi 9 km, jarak tempuh ke Kantor Kota Madya adalah 7 km, kemudian jarak tempuh ke Kantor Kecamatan 3 km, Untuk menunjang pengolahan maupun pemasaran, dalam hal ini ekspor maupun impor dalam produk perikanan pelabuhan ini di tunjang juga dengan akses jalan menuju bandara dengan jarak tempuh 25 km ke Bandara Soekarno Hatta  dan 35 km ke Bandara Halim Perdana Kusuma . Untuk menunjang kegiatan distribusi melalui laut, pelabuhan ini di tunjang dengan akses jalan darat sejauh 3 km dari Pelabuhan Sunda Kelapa dan 12 km dari Pelabuhan Tanjung Priok dan 6 Km dari Tempat Pendaratan Ikan Muara Angke.
Untuk menunjang kegiatan perikanan, pengolahan dan pemasaran hasil perikanan Pelabuhan Perikanan Nizam Zachman di tunjang dengan sarana dan prasarana yang memadai termasuk  didalamnya terdapat 49 perusahaan yang berlokasi di pelabuhan dengan kegiatan usaha baik kegiatan utamanya sebagai perusahaan penangkapan sampai dengan perusahaan pengolah produk perikanan dan pemasaran produk perikanan, sampai dengan perusahaan yang mendukung kegiatan kelautan dan perikanan didalam pelabuhan.
Hasil tangkapan utama pada pelabuhan ini adalah Cakalang, Tuna Sirip Kuning. Tuna Mata Besar, Cumi – cumi dan Layang. Total hasil tangkapan produksi ikan di tahun 2014 adalah 270.089 ton atau sekitar 739 ton/ hari. Total Produksi ini berasal dari produksi laut sebesar 119.603 ton dan ikan yang masuk ke pelabuhan 150.487 ton.

3.   PPN Kejawanan Cirebon
Pelabuhan Kejawanan merupakan Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN). Pelabuhan Perikanan Nusantara Kejawanan terletak di Kelurahan Pegambiran, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon. Tepatnya pada posisi 06°- 44’- 14” LS/108°- 34’- 54” BT. PPN Kejawanan berada di bagian timur Jawa Barat. Secara geografis sangat strategis karena merupakan pintu gerbang Jawa Barat bagian timur dan dengan mudah menghubungkan daerah pemasaran potensial yaitu Bandung dan Jakarta.
PPN Kejawanan mulai dirintis pada tahun 1976, namun pembangunannya baru intensif mulai tahun anggaran 1994/1995. Pembangunan dilakukan secara bertahap sesuai dengan anggaran yang tersedia. Sumber anggaran berasal dari APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara), APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah), ZEEI (Zona Ekonomi Ekslusif  Indonesia) dan OECF (Overseas Economic Cooperation Fund) merupakan yayasan kerjasama ekonomi luar negeri. Dalam pelaksanaan pembangunannya diprioritaskan pada fasilitas pokok seperti penahan gelombang, dermaga, kolam dan alur pelayaran, rambu navigasi, jalan masuk dan jalan komplek, TPI dan lain-lain. Setelah melalui 3 tahun anggaran yaitu tahun anggaran 1994/1995, 1995/1996 dan 1996/1997 PPN Kejawanan pada bulan Mei 1997 dioperasionalkan dengan status uji coba yang diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat Bapak R. Nuryana kala itu, walaupun dengan fasilitas yang masih minim.
PPN Kejawanan ini juga dijadikan tempat rekreasi laut bagi masyarakat Kota Cirebon. Menjelang sore hari dan hari-hari libur PPN Kejawanan sering dikunjungi masyarakat untuk sekedar melihat-lihat laut atau bermain di pantai sekitar Kejawanan. Pantai pelabuhan Kejawanan memiliki topografi pantai yang landai dan merupakan pantai dengan perairan tenang dan gelombang yang tidak terlalu besar. Arah angin dominan sepanjang tahun yang mempengaruhi pembentukan gelombang laut yang menuju ke arah pantai Teluk Cirebon.  Beberapa waktu lalu banyak orang yang percaya kalau air laut di pantai Kejawanan berkhasiat untuk menyembuhkan penyakit kulit dsb. Namun belum ada penelitian yang membuktikannya. Kemudian lokasi batu-batu pemecah ombak digunakan penghobi mancing. Ikan di sekitar wilayah Kejawanan bervariasi dari gelama, belanak, kakap batu, selar, buntel, kerapu, petek dll (berdasarkan pengamatan ikan yang diperoleh pemancing) dengan ukuran bervariasi tetapi umumnya ukuran kecil hingga sedang.  
Aktivitas Perikanan di PPN Kejawanan masih kurang ramai, kegiatan perikanan di sini masih kurang hidup. Jumlah kunjungan kapal dari tahun 2004 hingga 2008 semakin berkurang. Berturut-turut dari 2004 hingga 2008 yaitu 599 kali, 492 kali, 405 kali, 346 kali dan 334 kali.  Kemudian jumlah kapal domisili pun dari tahun 2004 hingga 2008 juga semakin berkurang yaitu 105, 113, 61, 70, 62 unit. Meskipun pada tahun 2005 sempat mengalami kenaikan, namun pada tahun berikutnya berkurang 53 unit.
Beberapa industry yang bekerja sama dengan pelabuhan ini antara lain PT. PAN PUTRA SAMUDERA usaha pengalengan rajungan di eksport ke USA, PT. Biotech Surindo usaha Cithosan, Mohan B Bahirwani I usaha rajungan dan kulit udang sebagai pupuk organic cair, UD. Barokah usaha pengasinan ikan, PD. Sambu usaha Unit Pengolahan Ikan, PT. Tegalindo usaha galangan dan dok kapal
HASIL DAN PEMBAHASAN
1.      PPI Muara Angke Jakarta
PPI Muara Angke memiliki luas sebesar 64 hektar. Sebagai pangkalan pendaratan ikan, PPI Muara Angke tergolong bagus dengan berbagai fasilitas yang sangat menunjang proses kegiatan di pelabuhan tersebut. Pelelangan ikan yang terjadi di Muara Angke terjadi setiap hari dari pukul 09.00-11.30 WIB. Adapun pengelola Tempat pelelangan Ikan (TPI) ialah Koperasi Mina Jaya.  Dalam proses pelelangan ikan terdapat biaya retribusi yaitu sebesar 3% dengan pembagian yaitu 2% dari pemilik ikan dan 1% untuk pembeli). Adapun mekanisme pelelangan ikan ialah dengan pelelangan satu persatu berdasarkan pemilik ikan. Peserta lelang adalah anggota koperasi yang terdaftar dan telah memberikan sejumlah uang jaminan yang akan digunakan sebagai modal mengikuti lelang. Setelah ikan berhasil dilelang, maka tim panitia lelang akan menghitung total keseluruhan pembelian. Kemudian akan diakumulasikan berdasarkan uang yang dimiliki. Jika uang peserta lelang masih berlebih, peserta memiliki hak untuk menarik atau menabung uang tersebut untuk lelang berikutnya. Adapun proses pelelangan ikan di PPI Muara Angke dilaksanakan setiap hari.
Tujuan pemasaran hasil tangkapan di PPI Muara Angke adalah ekspor, lokal dan nasional. Pemasaran lokal dan nasional dilakukan melalui pelelangan ikan. Pemasaran lokal di sekitar PPI Muara Angke yaitu pasar eceran dan pasar grosir. Terdapat tempat penanganan dan pengolahan ikan untuk diolah terlebih dahulu untuk selanjutnya dipasarkan di sekitar PPI Muara Angke ataupun dipasarkan antar kota. Kota yang menjadi tujuan pemasarannya diantaranya adalah kota Bogor, Depok, Tangerang, Ciputat, Cipete, Lampung, dll. Sarana angkutan yang digunakan di PPI Muara Angke yaitu mobil bak jenis L300, selain itu ada juga truk berpendingin dan digunakan juga sepeda motor roda tiga dilengkapi box pendingin. Kondisi prasarana jalan menuju daerah konsumen kurang begitu bagus, masih banyak jalan yang berlubang serta tergenang air, dan kondisi lingkungan dengan bau yang tidak sedap.
Terdapat dua waduk tempat pembuangan sampah di PPI Muara Angke, namun pengangkutan sampahnya tidak dilakukan secara benar hingga sampah – sampahnya dibiarkan menumpuk dan menyebabkan bau tidak sedap. Kondisi pembangunan ketika berkunjung ke sana sudah cukup bagus karana telah dilakukan renovasi. Air laut seringkali naik ke daratan hingga menyebabkan kawasan PPI Muara Angke kebanjiran dan menghambat aktifitas yang berlangsung. Kantor – kantor pelabuhan pun telah melakukan renovasi berkali – kali untuk menghindari banjir. Banjir terjadi disebabkan sampah – sampah yang menumpuk di selokan tidak dibersihkan dengan benar. Bukan hanya masalah kebersihan namun abrasi pun sering terjadi di pelabuhan ini
Proses pengangkutan dari palkah kapal ketika ikan didaratkan menggunakan keranjang dengan ikan hasil tangkapan yang telah disortir terlebih dahulu. Keranjang – keranjang yang berisi ikan hasil sortiran kemudaian disusun rapih untuk dibawa ke tempat pelelangan ikan / TPI. Dalam menjaga mutu ikan nelayan – nelayan di pelabuhan ini menggunakan es dalam setiap trip mereka. Pengangkutan dari pelabuhan ketika didaratkan dari palkah kapal menuju TPI menggunakan gerobak karena jarak antara pangkal pendaratan dan TPI sangat dekat. Para konsumen lokal yang ingin membeli ikan hasil tangkapan para nelayan menunggu waktu pelelangan dimana pelelangan dilakukan per nelayan sehingga konsumen yang tertarik membeli mendatangi nelayan yang ikannya akan dilelang. Konsumen yang ada bukan hanya konsumen local namun juga konsumen ekspor karena pemasaran ikan di PPI ini bukan hanya local maupun nasional tapi juga pemasaran ekspor ke luar negeri untuk mutu ikan yang bagus.
Hasil tangkapan utama di pelabuhan ini adalah ikan pelagis kecil termasuk cumi – cumi dan pari. Ketika penyortiran berlangsung, cumi – cumi yang berukuran utuh bermutu bagus dipisahkan untuk diekspor ke Negara luar sedangkan sisanya yang mutunya kurang bagus barulah dijual local dan nasional.  Harga tinggi cumi – cumi mengakibatkan nelayan membuang hasil tangkapannya berupa ikan pelagis kecil ketika musim cumi – cumi berlangsung. Hal ini menjadi masalah di sana karena ikan yang telah ditangkap dan mati apabila di buang ke laut akan mencemari lingkungan, selain itu sumberdaya ikan berkurang namun tidak dipergunakan artinya ikan tersebut hanya ditangkap sia – sia.
2.      PPS Nizam Zachman Jakarta
Sebagai pelabuhan perikanan terbesar di Indonesia, PPS Nizam Zachman memiliki fasilitas terlengkap dan perbekalan terlengkap. Memiliki industri sebanyak 53 dengan rata-rata karyawan sebanyak 200 orang. Tujuan pemasaran hasil tangkapan di PPS NizamZachman Jakarta adalah ekspor, lokal dan nasional. Pemasaran lokal dan nasional dilakukan melalui pelelangan ikan. Sarana angkutan yang dig unakan di PPS Nizam Zachman Jakarta yaitu mobil bak jenis L300, Carry Futura, dan Colt T120ss. Pemasaran ekspor yang ada di PPS Nizam Zachman Jakarta adalah pemasaran ikan tuna kualitas yang baik. Ikan tuna terlebih dahulu dibersihkan insangnya lalu dimasukkan ke dalam box dan siap dikirim ke luar negeri. Untuk tujuan nasional daerah yang menjadi sasaran pemasaran diantaranya adalah Banyuwangi, Surabaya, Bandung, Bekasi. Daerah lokal tujuan pemasaran diantaranya adalah daerah Pondok Gede, dan pasar lokal di daerah sekitar Jakarta. Kondisi prasarana jalan menuju daerah konsumen sudah memadai, di lokasi pelabuhan menuju jalan protokol jalanan tidak banyak yang berlubang dan sudah cukup nyaman untuk dilewati. Fasilitas pokok maupun fasilitas pendukung yang ada pada pelabuhan ini sudah cukup lengkap dengan cold storage yang terjamin.
Kebersihan lingkungan di pelabuhan PPS Nizam Zachman ini sudah terjaga meskipun masih terlihat bahwa para nelayan membuang oli bekas mereka dan sampah – sampah ke pantai hingga merusak pemandangan pelabuhan. Ketika mewawancarai seorang nelayan dan pekerja di pelabuhan tersebut memberitahukan bahwa telah ada instansi khusus yaitu petugas kebersihan yang menangani hal itu dengan mengangkut sampah dua kali seminggu. Pelabuhan ini juga memiliki tempat penampungan sampah khusus hingga sampah – sampahnya tidak merusak lingkungan dan pemandangan di pelabuhan.
Proses pendaratan ikan dari palkah kapal ke pangkal pendaratan pelabuhan dilakukan oleh buruh – buruh nelayan dengan gotong royong mengangkut ikan yang telah dimasukkan ke dalam keranjang dan telah disortir berdasarkan mutu, panjang, dan berat ikan. Tampak pengisian log book dilakukan oleh nelayan sebelum ikan dinaikkan ke atas mobil pengangkut untuk dibawa ke tujuan pemasaran masing – masing. Hasil tangkapan yang telah dimasukkan ke dalam keranjang usai penyortiran berdasarkan grade, ikan dipindahkan ke mobil pengangkut untuk dibawa ke tempat pemasaran atau hinterland masing – masing.
Pemasaran di PPS ini pun sama yaitu tujuan ekspor untuk mutu ikan yang paling bagus dengan grade A memiliki harga jual yang paling tinggi pula dibandingkan dengan grade B dan C. Untuk grade C pemasrannya dilakukan lokal. Hasil tangkapan yang didaratkan di pelabuhan ini sebagian besarnya adalah komuditas ekspor yang memiliki daya jual tinggi seperti tuna, cakalang, dan tongkol.  
3.      PPN Kejawanan Cirebon
Sebagai pelabuhan berskala nusantara, PPN Cirebon termasuk kurang jika dibandingkan dengan kedua pelabuhan dalam segi aktivitas pelabuhan. Tidak berfungsinya fungsi Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dikarenakan tidak ada/ sedikit kapal yang mendaratkan ikan di pelabuhan ini. Adapun penyebab sedikitnya kapal yang mendaratkan ikan di karenakan ukuran kapal yang besar – besar membuat waktu untuk menangkap ikan menjadi lama.
Tujuan pemasaran hasil tangkapan di PPN Karangantu hanya sebatas tujuan lokal dan luar negeri. Tujuan local yang utama adalah di sekitar kabupaten Cirebon. Biasanya juga tujuan lokal sampai ke Jakarta Sedangkan tujuan luar negeri biasanya ke negara – negara Korea, Jepang, Amerika dan beberapa negara Eropa. Hasil tangkapan yang di kirim ke luar negeri biasanya hasil tangkapan yang bagus dan telah dilakukan tahap penseleksian.
Kondisi lingkungan di PPN secara umum baik. Permsalahan umum di setiap pelabuhan adalah terkait lingkungan. Tumpahan minyak yang membuat polusi terhadap perairan terjadi di pelabuhan ini. Sampah yang masih ada di kolam pelabuhan menandakan masih kurang peduli baik manusia maupun pihak pelabuhan dalam menjaga lingkungan pelabuhan
Kesimpulan
Dari praktek lapang (fieldtrip), mahasiswa lebih mengerti dan tahu mengenai aktivitas pelabuhan di tiga Pelabuhan Perikanan yaitu PPI Muara Angke, PPN Kejawanan dan PPS Nizam Zachman. Dari ketiga pelabuhan, proses pelelangan ikan yang masih berjalan adalah PPI Muara Angke. Di lihat dari segi fasilitas, PPS Nizam Zachman memiliki fasilitas yang paling menunjang dalam pemasaran menuju konsumen dan tempatnya yang strategis. Di PPN Kejawanan, sungguh di sayangkan karna tidak cukup banyak kegiatan pelabuhan yang bisa di lihat di sana. Kondisi lingkungan menjadi permasalahan utama pada setiap pelabuhan. Baik permasalahan sampah maupun permasalahan pencemaran air oleh BBM.

Daftar Pustaka/Referensi
Anonim. 2010. www.muaraangke.net/index.php?option. [terhubung berkala]. (1 Januari 2013)
Huffard, C.L dkk. 2010. Menentukan Wilayah Geografis Prioritas Untuk   Konservasi Keanekaragaman Hayati Laut di Indonesia. Jakarta. 2010. p.3
KKP. 2012. PPN Karangantu. [terhubung berkala]   http://www.pipp.kkp.go.id/ 02 Januari 2013 12:30
Lubis, E. 2002. Pengantar Pelabuhan Perikanan. Laboratorium Pelabuhan   Perikanan. Jurusan PSP. FPIK IPB. Bogor. 79 Halaman
Murdiyanto, Bambang. 1982. Pengembangan Pelabuhan Perikanan Laut di             Indonesia. Bogor. 1982. p 1-2
PPN Kejawanan-Profil 2009, 10 November 2009 diakses tanggal 26 November 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar